Friday, May 20, 2011

Teori Relativitas Jacob Barnett


IQ memang tidak seaktual dulu sebelum ada EQ dan ESQ. Dulu kecerdasan intelektual menjadi satu-satunya standar kecerdasan, bila bertindak bodoh biasanya dipanggil “IQ jongkok”. Namun kemudian beberapa penelitian menunjukkan IQ tak selalu berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosional dan kecerdasan sipiritual menjadi sangat aktual beberapa tahun terakhir. Kedua kecerdasan ini dirasa sangat berpengaruh dengan kesuksesan seseorang.
Mungkin karena sudah membaca buku EQ dan ESQ, saya kemudian cenderung menomor-sekiankan IQ. Bagi saya, IQ tidak lagi seaktual dulu. Saya kadang biasa-biasa saja mendengar seseorang memiliki IQ 150 ke atas. Namun kemarin saya tiba-tiba takjub dengan seorang anak berumur 12 tahun yang memiliki IQ 170. Albert Einstein saja hanya memiliki IQ 162. Jacob Barnett atau yang biasa dipanggil Jake itu telah membuat profesor-profesor di Universitas Indiana takjub. Profesor-profesor itu berharap bisa berkerja sama dengan Jake yang sedang memulai proyek teori relativitasnya yang bisa menjadi teori relativitas Einstein versi baru.
Ibu Jake, Kristine Barnett, sendiri tidak mengira anaknya bisa menciptakan teori sefenomenal ini. Jake memang mempelajari kalkulus, aljabar, geometri, dan trigonometri sendiri, namun ibunya takjub setelah Jake mengirim video teorinya ke Institute for Advanced Study di Princeton University. Profesor astrofisika Scott Tremaine membenarkan teori Jake itu. Scott Tremaine kemudian mengirimkan email kepada ibu Jake, “Teori yang dia (Jake) sedang kerjakan melibatkan masalah paling sulit dalam astrofisika dan fisika teori. Siapa pun yang memecahkan ini akan pantas mendapatkan hadiah Nobel.”
Hebatnya lagi, anak jenius ini ternyata didiagnosis menderita Autis ringan sejak kecil. Bagaimana bisa orang meremehkan para penderita Autis setelah Jake melakukan penelitian fenomenal ini. Namun ketika beranjak dewasa, Jake mulai bertindak istimewa. Dalam umur tiga tahun, Jake berhasil memecahkan puzzle yang terdiri dari 5.000 potongan. Jake kerap tidak bisa tidur karena memikirkan teori-teori matematika di malam hari. Jake kerap kali mengambil pena dan menuliskan rumus-rumus di jendela. Jake juga bisa menghapal di luar kepala peta-peta jalan dan awalan plat nomor kendaraan.
Tiba-tiba saya merasa ciut setelah menuliskan kisah tentang Jake ini. Two Thumbs Up for Jake!
Check this video : Jacob barnett

No comments:

Post a Comment

Write a comment